6/27/2015

Tidak Hanya Bicara! Kita Perlu Perubahan Nyata

Tidak penting membanggakan Kelompok!. Tidak penting membanggakan keluarga!. Tidak penting membanggakan gelar atau titel! Tidak penting membanggakan semuanya. Karena Rasulullah semasih hidup tidak pernah membanggakan Keluarga, Sahabat, Keturunan, Golongan, Istria tau yang lainya. Pantaskah kita membanggakan keluarga? Padahal Rasulullah lebih pantas berbangga diri dibanding kita. Rasulullah bangga memiliki sosok istri Siti Khotijah yang sabar dan lebih dewasa, serta kaya raya. Rasulullah memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, serta istiqomah. Keturunan bangsa Quraisy yang disegani dan dihormati. Memiliki sahabat – sahabat yang memiliki kecerdasan yang berlian. Hafal Al – Qur’an, Hadits, ahli tafsir, menguasai kitab, berbagai disiplin ilmu, ahli politik, ahli siasat perang, dll. Rasulullah tidak pernah juga membanggakan diri sendiri? Padahal kita semua tahu dan sangat baham serta fasih. Bahwa rasulullah merupakan Al – Qur’an Berjalan. Yang ucapan, tindakan, serta perasaannya adalah ayat. Siapa saja yang ketemu beliau, tidak lama pasti berubah. Banyak juga yang langsung berubah. Diamnya saja dakwah, dianggap sebagai suatu yang kebaikan dan mulia. Rasulullah yang pernah berbicara dan melihat Allah di sidrotul muntaha, tapi biasa tuh, nggak ada pamernya. Nggak ada pembangganya. Rasulullah juga yang dijamin masuk surga terbaik pertama kali. Tapi kayaknya biasa aja ya?. Gimana?


 Subhanallah…istigfar saudaraku yang seiman dan seperjuangan. Mari kita tata kembali kehidupan kita yang masih banyak dosa. Kita perbanyak berbuat baik. Supaya pahala kita terus mengalir deras serta kita  tumbuh berkembang semakin menumpuk dan menjadi pupuk.  Semoga pupuk – pupuk itu menyuburkan orang – orang di sekitar kita. Mereka yang kita sayangi dan cintai serta kasihi untuk masa depan bersama.  Tularkan energy positif pada setiap yang kita temui. Tidak melihat makhluk hidup atau mati. Karena setiap yang diciptakan memiliki peran dan manfaat yang berbeda – beda. Manfaat itu bisa diambil dimana saja. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Atau kita akan membahas sosok penakluk Kostantinopel. Yang rasulullah mengatakan sebaik – baiknya pemimpin. Sebaik – baiknya pasukan adalah pasukannya. Selama hidupnya puasa senin – kamis. Sholatnya selalu berjamaah dan mulai takbir pertama. Sholat tahajudnya sepertiga malam. Sholat duhanya saat matahari terbit. Sekarang apa yang akan kita banggakan. Masih banyak orang – orang terdahulu yang lebih hebat, kuat, kekeh, taat, cerdas, dan sukses mulia. Tapi kita terkadang menutup diri dari ilmu sejarah. Ilmu kita hanya tentang barat. Kiblat kita sensitif ke barat. Cenderung buku – buku dan temuan barat yang kita pakai sebagai hujjah. Lantas mana esensi nilai – nilai islam yang memiliki sejarah keemasan itu. Sudah lupakah kita pada teriakan rasulullah terakhir kali sebelum beliau wafat. Ummatku…ummatku…ummatku. Beliau terus mengulangi kata ummatku sebanyak…berapa? Ya benar 3 kali. Kenapa 3 x. kenapa tidak satu kali, karena Allah itu satu. Atau kenapa tidak 2 kali, karena hidup ini selalu berbicara 2 unsur yang berbeda. Pengin tahu? 3 aja nggak pada ngeh. Nggak pada mudeng. Nggak pada sadar. Apalagi nggak pada percaya. Lebih parahnya udah tahu, paham, sadar, sangat yakin lagi, tapi nggak berubah. Astagfirullah. Diulang 3x saja, seperti itu. Apalagi diulang 2 atau 1 kali. Parah. Bahkan Rasulullah ketika sakaratul maut sempat berkata. Ya Allah, sakit banget sakaratul maut ini, limpahkan semua rasa sakit ini kepadaku, jangan kepada ummatku.

Tenang ya, yang di atas baru muqodimah. Belum salam, syukur, solawat, isi (inti-masalah-solusi), dan penutup.

Sebelum lanjut. Semoga jenengan yang membaca atau bahkan yang hanya melihat tulisan ini. Penulis do’akan, semoga jenengan segera sukses mencapai cita – cita dan mulia berbagi kepada sesama. Semoga keselamatan, keberkahan, dan kasih sayang Allah selalu saudara – saudaraku rasakan-syukuri-nikmati. Maka kebahagiaan akan selalu melekat pada setiap sisi kehidupan saudara.  Amiiin. Kalau sudah, Yuk pejamkan mata dan rasakan dalam hati mengalir ke seluruh tubuh. Rasakan begitu nikmatnya kita. Masih bisa puasa ramadhan, walau baru 4 ½ hari. Masih bisa baca tulisan bagus ini, walau pakai kaca mata. Masih bisa menuntut ilmu walau ngalamun melulu. Masih bisa kumpul dan bersilaturahmi dengan orang – orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Dan masih banyak kalimat kenikmatan (seng woenak – woenak), yang menggunakan awalan masih. Untuk itu nggak usah panjang lebar mari kita ucapkan Alhamdulillah ya Allah, engkau masih berikan kami udara gratis, uang gratis, ilmu gratis, ala tulis gratis, sahabat – sahabat gratis, keluarga gratis, makan gratis, ojek pun sampai gratis ya Allah. Tidak akan mungkin kami bisa menulis semua nikmat-Mu yan tulus Engkau berikan kepada kami. Niscaya tidak akan mampu laptop ini menyimpan semua nikmat-Mu jika tertulis. Jikalau cukup pasti rusak laptop ini ya Allah. Cukup saja tidak puas kalau belum mampu. Untuk itu kami minta maaf ya Allah. Kami sering melalaikan-Mu disepanjang waktu. Kami lebih sibuk dengan ipadku ya Allah. Tapi Engkau masih saja memberi kami kehidupan. MemberI kami kesempatan. Untuk itu terima kasih ya Allah. Kami berjanji akan memperbaiki diri dengan taubat yang sebenar – benarnya. Akan semakin taat menjalankan perintahmu dan menjauhi laranganmu. Kami akan memaksakan diri merubah kebiasaan buruk menjadi terbaik. Kami tidak ingin menjadi tersempurna. Tapi kami hanya ingin menjadi hambamu yang lebih baik dan lebih baik seterusnya. Karena kami sadar dan yakin. Bahwa kesempurnaan itu hanya milik Engkau ya Allah. Kalau sudah, yuk ucap sholawat dan keselamatan kepada rasulullah Saw, keluarganya, sahabatnya, serta ummatnya-kita semua yang semoga istiqomah menuntun di jalannya. Mari kita teladani akhlaqnya, ikuti sunah – sunahya, jaga ummatnya, jaga agama yang dibawanya, serta teruskan langkah juang dakwahnya. Sehingga apa yang menjadi cita – cita Rasulullah dan kita bersama bisa fakta, realita, dan nyata atas Ridho lillahi ta’ala. Amiin.

Telinga anda tidak asing dengan kata – kata Buah jatuh tidak jauh dari pohonya atau sifat anak tidak jauh dari orang tuanya. Sekarang apa bedanya sifat dan karakter?
Jadi, bedanya sifat dan karakter adalah sumber dan jenis partikelnya. Kalau sifat itu watak dasar. Artinya sifat jiwa yang fitrah dan asli bawaan dari gen orang tuanya. Sedangkan karakter merupakan watak luar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Kalau sifat bersifat rohani, sedangkan karakter besifat rohani. Makanya wajar sekali ada anak yang sama persis dengan orang tuanya. Baik bapaknya maupun ibunya. Dari segi bicara, tampilanya, memandangnya, pola pikirnya, dan keyakinanya. Bahkan ada juga yang kebiasaan urut sehari – harinya sama.

Subhanallah…jangan heran. Karena apa?. Seorang anak sejak kecil sudah sering kumpul dari mulai tidur sampai mau tidur lagi bersama orang tuanya. Apa yang orang tua lakukan pasti anak tahu, melihat, merasakan, dan merekam dalam memori otak bawah sadar. Disitu ada orang tua. Pasti disitu ada anak. Kemanapun orang tua. Anak pasti diajak. Bahaya apa?. Bahayanya adalah ketika orang tua melakukan segala sesuatu yang negative. Seperti pertengkaran antara suami dan istri. Sehingga menjadikan suasana keluarga tidak sakinah, mawadah, warohmah, serta istiqomah. Kalau sudah seperti ini yang menjadi korban adalah anak – anaknya. Yang nantinya mereka akan semakin sering merekam hal – hal yang negatif. Yang akan menjadi bekal kehancuran di masa depan. Karena dalam otak manusia ada yang namanya otak limbik. Otak limbik atau otak bawah sadar ini berfungsi untuk mempertebal segala sesuatu yang sering ditemui. Otak bawah sadar ini bekerja ketika gelombang frekuensi otak dibawah beta. Bisa Alfa, delta, atau theta. Tapi yang paling tepat adalah ketika kondisi theta. Karena tidur setengah sadar. Atau bahasanya lamat – lamat. Saat itulah otak bawah sadar akan secara Cuma – Cuma merekam  keadaan disekitarnya. Apalagi anak kecil yang belum bisa membedakan mana baik dan buruk. Belum bisa memanagement kerja otak. Maka secara langsung akan terprogram secara otomatis. Hal ini bisa dianalogikan seperti mesin foto copy yang memproses kertas kuarto dalam copian. Maka yang akan keluar dari hasil copian itu pasti kertas kuarto. Kalaupun bukan kertas kuarto. Bisa jadi kecampur dengan kertas lain. Atau mesin dan orangnya yang eror. He.  Jadi sebelum otak limbic ini merekam. Di terima dan diproses dulu oleh otak. Memaknai, memandang, melihat, menilai, mengkiritik, menyalahkan, dan lain sebagainya inilah tugas otak. Setelah otak memproses segala sesuatu atau informasi yang masuk. Diturunkan ke Amigdala (bahasa psikologi). Di dalam amigdala disimpan dan jadilah mindset (pola pikir). Dari amigdala diturunkan ke otak limbic untuk dirangsang dan dipertebal. Kalau tindakan itu diulang – ulang, maka akan semakin menebal dan enjoy (nyaman ketika melakukannya). Dan akan semakin tipis dan hilang dikalahkan tindakan baru yang diulang – ulang. Sedangkan tindakan lama distop, maka tindakan lama semakin tipis dan hilang di dalam amigdala. Bagian otak yang satu ini akan datang kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun siap melayani kita. Kalau yang dilayani terus melakukan yang positif, maka untunglah yang dilayaninya. Tapi kalau sebaliknya, maka sangat rugilah anda.
Jadi kita sudah tahu bagaimana cara kerja otak. Dari bagaimana muncul kebiasaan – kebiasaan atau biasa disebut karakter. Untuk itu marilah kita sama jaga anak – anak bangsa. Mereka adalah harapan masa depan kita. Yang akan meneruskan langkah perjuangan kita. Karena kondisi otak anak ketika masih kecil sangat aktif. Aktif menerima informasi yang masuk tanpa pertimbangan dan penalaran.  Maka otak bawah sadarnya akan mudah dan semakin cepat dalam merekam. Dan outputnya ditiru ketika sudah masanya. Sehingga semakin besar akan menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam diri anak. Dan untuk kita yang sudah remaja dan dewasa. Kita sedang menginjak masa muda, masa yang penuh kendala dan uji coba. Pemuda butuh stimulus kuat untuk perubahan ke arah yang lebih baik dan mulia.

Berhati – hatilah kawan! Ingat! Syeitan akan datang menggoda iman kita. Mereka tidak membedakan siapa orangnya. Rumahnya mana. Umurnya berapa. Titelnya apa. Jabatanya apa. Kewarganegaraanya mana. Agamanya apa. Sarjana mana. S1 atau S2. Masih bujang atau sudah nikah. Janda atau duda. Semua itu sama sekali tidak menjadi perbedaan syeitan untuk melemahkan iman manusia. Yang membedakan semakin tinggi dan kuat imanya serta istiqomah. Maka semakin kuat dan tinggi pula frekuensi godaan syeitanya. Maka mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Karena kebiasaan yang sudah melekat dalam diri manusia, bahkan menjadi watak dasar, maka perlu kekuatan ekstra untuk merubahnya. Jangan meremehkan action. Pilihlah action yang membuat anda bahagia dunia akhirat. Yang tidak hanya membuat anda sukses tapi juga mulia. Maka ingatlah ketika ada tindakan dan pengulangan, pasti akan tampak kebiasaan. Karena orangtuanya kebiasaan adalah tindakan (bapak) dan pegulangan (ibu). Bapak dengan ibu menjadi anak. Bapak + ibu = anak.

Jangan pernah bermain dengan sesuatu yang kecil dan coba – coba. Karena itu semua awal dari perubahan yang nyata. Kalau permainan anda mengarah pada kebaikan. Maka akan merasakan akhir yang bahagia. Akan tetapi kalau permainan anda mengarah pada keburukan dan kejahatan yang tidak membawa kemanfaatan. Maka akan merasakan akhir yang menderita. Tidak hanya di dunia. Tapi juga akhirat. Ingat! Ini bulan ramadhan. Bulan yang suci penuh ampunan. Penuh kebaikan. Penuh kemuliaan. Penuh perbaikan. Penuh kebahagiaan. Penuh kasih sayang. Penuh amalan kebaikan. Relakah kita menyia – nyiakan bulan terbaik diantar dua belas bulan. Tidak kecewakah kita menghambur – hamburkan waktu untuk aktivitas yang tidak berguna di bulan yang malam – malamnya lebih baik dari seribu malam. Kalau tidak rela dan tidak ingin kecewa, bahkan ikhlas. Yuk kita berubah dan berhati – hati dalam apapun. Bahkan Rasulullah memerintahkan kita untuk diam, daripada berbicara yang buruk. Karena apa yang kita lakukan akan menjadi kebiasaan. Sangat mudah sekali otak bawah sadar menebalkan rasa nikmat. Sehingga si ibu bahagia sekali mengulangi tanpa mempertimbangkan efeknya. Kalau baik tidak masalah. Lanjut saja. Dan diulangi semahir mungkin. Tapi kalau buruk?. Ya dihabisi. Hajar bareng – bareng. Supaya mampus. Daripada nyebarin virus kemalasan. Hanya membuat kerusakan di semesta alam. Yang nantinya ditiru anak keturunanya. Sehingga menjadi amal sholeh yang akan mengalir dosa atau pahalanya dan tidak akan terputus hingga hari kiamat. Jenengan mau puluh mana? Aliran pahalanya atau dosanya yang akan terus mengalir sampai ke laut. Itu kehendak anda. Pilih surga atau neraka? (srf)

0 komentar:

Posting Komentar

 

terimakasih atas kunjungannya

we love palestina

Lambang LDK

hubungi kami di:

Jl. Tentara Pelajar No. 2 gedung A, Lt. I kampus I STAIN Salatiga 50721
Phone: 085744479682
E-mail: ldkdarulamal.stainsltg@gmail.com
FB: LDK Darul Amal STAIN Salatiga "